Saturday, May 12, 2012

Kevin Carter



Kevin Carter was born in apartheid South Africa and grew up in a middle-class, whites-only neighborhood. As a child, he occasionally saw police raids to arrest blacks who were illegally living in the area. He said later that he questioned how his parents, a Catholic, "liberal" family, could be what he described as 'lackadaisical' about fighting against apartheid.
After high school, Carter dropped out of his studies to become a pharmacist and was drafted into the army, which he hated. To escape from the infantry he signed up for the professional air force, mistakenly trapping himself into four years of service. In 1980, he witnessed a black mess-hall waiter being insulted. Carter defended the man, resulting in him being badly beaten by the other soldiers. He then went AWOL, attempted to start a new life as a radio disk-jockey named "David". This, however, proved more difficult than he had anticipated. Suffering from depression, he attempted suicide. Soon after, he decided to serve out the rest of his required military service. After witnessing the Church Street bombing in Pretoria in 1983, he decided he wanted to become a news photographer.
In March 1993, while on a trip to Sudan, Carter was preparing to photograph a starving toddler trying to reach a feeding center when a vulture landed nearby. Carter reported to have taken the picture, because it was his "job title", and leaving. He came under criticism for failing to help the girl:
The St. Petersburg Times in Florida said this of Carter: "The man adjusting his lens to take just the right frame of her suffering, might just as well be a predator, another vulture on the scene."
Sold to the New York Times, the photograph first appeared on March 26, 1993. Hundreds of people contacted the newspaper to ask the fate of the girl. The paper reported that it was unknown whether she had managed to reach the feeding center. In 1994, the photograph won the Pulitzer Prize for Feature Photography.
João Silva, a Portuguese photojournalist based in South Africa who accompanied Carter to Sudan, gave a different version of events in an interview with Japanese journalist and writer Akio Fujiwara that was published in Fujiwara's book The Boy who Became a Postcard (絵葉書にされた少年 - Ehagaki ni sareta shōnen).
According to Silva, they (Carter and Silva) went to Sudan with the United Nations aboard Operation Lifeline Sudan and landed in Southern Sudan on March 11, 1993. The UN told them that they would take off again in 30 minutes (the time necessary to distribute food), so they ran around looking to take shots. The UN started to distribute corn and the women of the village came out of their wooden huts to meet the plane. Silva went looking for guerrilla fighters, while Carter strayed no more than a few dozen feet from the plane.
Again according to Silva, Carter was quite shocked as it was the first time that he had seen a famine situation and so he took many shots of the children suffering from famine. Silva also started to take photos of children on the ground as if crying, which were not published. The parents of the children were busy taking food from the plane, so they had left their children only briefly while they collected the food. This was the situation for the girl in the photo taken by Carter. A vulture landed behind the girl. To get the two in focus, Carter approached the scene very slowly so as not to scare the vulture away and took a photo from approximately 10 metres. He took a few more photos before chasing the bird away.
Two Spanish photographers who were in the same area at that time, José María Luis Arenzana and Luis Davilla, without knowing the photograph of Kevin Carter, took a picture in a similar situation. As recounted on several occasions, it was a feeding center, and the vultures came from a manure pit waste:
"We took him and Pepe Arenzana to Ayod, where most of the time were in a feeding center where locals go. At one end of the enclosure, was a dump where waste and was pulling people to defecate. As these children are so weak and malnourished they are going head giving the impression that they are dead. As part of the fauna there are vultures go for these remains. So if you grab a telephoto crush the child's perspective in the foreground and background and it seems that the vultures will eat it, but that's an absolute hoax, perhaps the animal is 20 meters."
On 27 July 1994 Carter drove to the Braamfontein Spruit river, near the Field and Study Centre, an area where he used to play as a child, and took his own life by taping one end of a hose to his pickup truck’s exhaust pipe and running the other end to the passenger-side window. He died of carbon monoxide poisoning, aged 33. Portions of Carter's suicide note read:
"I am depressed ... without phone ... money for rent ... money for child support ... money for debts ... money!!! ... I am haunted by the vivid memories of killings and corpses and anger and pain ... of starving or wounded children, of trigger-happy madmen, often police, of killer executioners ... I have gone to join Ken [recently deceased colleague Ken Oosterbroek] if I am that lucky."




Cintailah Saya kerana Allah....

Hujung minggu yang sering dirindui.. Berehat dirumah sementara menunggu Isnin yang bakal menjelma.. itulah rutin seorang insan bernama Siti Hajar.. saya menghabiskan masa saya dengan memasak, membuat kuih, membuat kek, mewarna, melayan kanak-kanak, dan keluar bersama akak saya.. Nak dikatakan keluar bersama rakan, sangat jarang sekali... Tanggungjawab kawan-kawan bersama keluarga yang mereka bina, mengehadkan masa untuk kami keluar bersama...

Kalau di facebook, ada status "single", "in a relationship", "engaged", "married", kawan-kawan setiap minggu pasti seorang demi seorang akan menukar status mereka, dan saya, masih lagi mengekalkan status "single".. Mungkin saya lebih selesa memegang status itu, mungkin sebab perkara lepas membuat saya masih lagi fobia untuk berpasangan tetapi saya tak tahu la kalau in future, hati saya terbuka kepada seseorang kan.. hihihi.. harap-harapnya terbuka la... tetapi tak kisah pun sekarang ni.... 

Bila ditanya oleh rakan-rakan saya, "Hajar, tak kan tak de yang cuba masuk line? kau seorang happy go lucky, dengan semua orang boleh masuk.." saya hanya memberikan senyuman, dan di dalam hati saya hanya berkata, "masih tak bertemu apa yang dicari..." kalau saya mengungkapkan kata-kata itu dari mulut saya kepada mereka, confirm mereka akan mengatakan, "memilih! umur dah makin tua..." jadi senyuman lebih baik... Saya pernah terbaca satu status di facebook, dan status ini membuatkan saya tidak tergopoh-gopoh untuk mencari pasangan... "Orang sibuk memikirkan untuk kahwin awal, tetapi tidak pernah memikirkan mati awal"... Status ini yang menjadikan saya seorang yang cool bab jodoh... hihihihi.... kepada yang single, boleh pakai status ni, confirm korang akan cooooollll macam saya....

Soal tentang jodoh ni, ini bukan perkara yang main-main.. memilih pasangan hidup untuk dijadikan imam, ayah, pasangan hidup yang sentiasa bersama dalam susah dan senang.. Jujur saya katakan, ramai yang cuba untuk mengambil hati saya, tetapi saya tak tahu kenapa hati saya cukup payah untuk terbuka.. mungkin ada 1 dalam 10 yang membuatkan hati saya terbuka, tetapi apabila saya meminati dia, pasti saya akan menanyakan balik pada diri saya, "layak kah aku untuk dia? dia seorang yang sangat baik... aku pulak... memang sah-sah tak baik..." timbul perasaan rendah diri pada diri saya, menyebabkan saya akan mengundur diri... itulah saya.... tetapi kalau lelaki yang saya minati itu meluahkan perasaan terhadap saya, sudah tentu, saya rasa terlalu gembira yang teramat... mungkin dia lah pemilik tulang rusuk yang hilang.... (jangan kau menari macam gila sudah la Hajar!! hahaha.. buat sujud syukur! itu yang terbaik!!) tetapi itu sangat sukar untuk berlaku.... orang yang saya minati, mesti tak minat saya... hahaha.. hidup 26 tahun dah kot! dah faham corak kehidupan saya... kekeke..

Sebenarnya siapa yang saya cari ni??? Bila saya fikir semula, saya mencari seseorang yang menyintai saya kerana Allah... hidup bersama saya kerana Allah.. cinta terhadap Allah lebih tinggi daripada cinta nya terhadap saya... Mungkin payah untuk mencari tetapi saya pasti Allah menyediakan saya seorang lelaki yang seperti saya idamkan dan yang terbaik untuk saya!

Ok la.. post ni sebenarnya sekadar mengisi masa terluang sementara mencari mood untuk menyambung warna... :)

psst: InsyaAllah selepas selesai sahaja saya painting saya tuh, saya akan letakkan di salah sebuah rumah anak-anak yatim.. betapa dalam nya cinta sayang saya pada painting saya, macam tu juga dalamnya cinta sayang saya terhadap anak-anak yatim....

ok! C U in next post bebeh!!! selamat berhujung minggu!

Tepati Janji dan Persoalannya dalam Islam

Islam telah mengajar penganutnya agar sentiasa memperlihatkan kematangan dalam segenap tindak-tanduk, ini termasuk cara penampilan diri, cara bermuamalah, berpendidikan, berkeluarga, berpolitik, berekonomi, berjiran, bersahabat, tidak kurang juga pengamalan kepada akhlak-akhlak terpuji seperti menepati janji.


Ini kerana orang yang memungkiri janji termasuk dalam katogeri manusia yang dilabelkan sebagai talam dua muka, tindakan itu dilarang keras oleh baginda Rasulullah s.a.w., justeru mereka yang terbabit dalam kategori ini jelas disebut sebagai golongan munafik, wal 'iyazu billah.


Ia sebagaimana sabda Nabi s.a.w. yang bermaksud: Empat ciri jika seorang Muslim itu memilikinya, maka dia menjadi seorang munafik tegar melainkan selepas itu dia meninggalkannya: "Jika diberikan sesuatu amanah dia cabulinya, jika dia bercakap dia berdusta, jika dia berjanji dia memungkirinya dan jika dia bertelingkah dia celupar."


Jelas daripada apa yang ditegaskan Nabi melalui hadis tersebut di atas, membayangkan kepada kita betapa memungkiri janji adalah satu perbuatan negatif yang melayakkan seseorang Muslim itu digelar munafik, apa yang membimbangkan kita ialah golongan munafik ditempatkan Allah di bawah sekali dalam api neraka, tempat yang paling dekat dengan api yang membakar.


Sesungguhnya apabila seseorang Muslim itu mampu menunaikan sesuatu janji terhadap saudara Muslimnya yang lain, maka sebenarnya dia telah melakukan satu tuntutan agama yang amat besar dalam hidupnya, malah dia berhak mendapat naungan daripada Allah dalam segenap aktiviti kehidupan hariannya sebagai Muslim yang baik.


Bagi membuktikan kesahihan kenyataan di atas, berikut disebut satu kisah benar berhubung nilai seseorang Muslim yang berusaha untuk menunaikan janjinya seperti yang disebut oleh Syeikh Taha Abdullah al-'Afifi dalam kitabnya 'Wasiat-wasiat Rasulullah':


Terdapat seorang lelaki beriman pada zaman silam yang amat memerlukan wang untuk berbelanja dan mahu meminjam sejumlah wang daripada orang lain, namun si pemiutang tidak dapat membawa seorang saksi dalam urusan peminjaman wang. Walau bagaimanapun pemberi hutang itu reda dan sedia untuk memberikan sejumlah wang yang diminta dan berkata bahawa cukuplah Allah sebagai saksi.


Dengan niat yang baik kerana Allah, pemiutang berjanji pada dirinya sendiri akan membayar hutang-hutangnya bila ada wang yang mencukupi untuk berbuat demikian, niat baiknya itu dibantu Allah dan memperkasa dirinya untuk sedia membayar.


Dengan niat baik untuk membayar, maka Allah SWT memudahkan urusannya berbuat demikian, satu hari dia bertekad untuk bertemu dengan pemberi hutang bagi melunaskan segala hutangnya, tiba-tiba takdir Allah mengatasi segala-segalanya, jambatan yang menghubungkan dua kampung dan memisahkan antara pemiutang dan pemberi hutang roboh akibat banjir besar, kerana takut jika dia (pemiutang) tidak menunaikan janji, maka dia telah meletakkan sejumlah wang yang dipinjam dahulu dalam sebatang kayu berlubang dan tertulis padanya daripada pemiutang kepada pemberi hutang, kayu itu pun dihanyutkan ke dalam sungai dan dia terus berdoa semoga hutang-hutang yang dilunaskannya diselamatkan Allah.


Kehendak Allah mengatasi segala-segalanya apabila pemberi hutang yang jarang turun ke sungai tiba-tiba muncul di situ dan mendapati ada sebatang kayu yang dihanyutkan tertulis namanya daripada pemiutang, beliau bersyukur kepada Allah atas pertolongan-Nya.


Walau bagaimanapun pemiutang masih dibelenggu keadaan sugul sama ada hutangnya sampai ataupun tidak, setelah jambatan itu dibaiki, pemberi hutang terus mencari pemiutang di kampung bersebelahan bagi mengkhabarkan berita baik itu, masing-masing gembira dan bersyukur kepada Allah kerana niat baik untuk menunaikan janji dikabulkan Allah.


Daripada kisah benar di atas, dapatlah disimpulkan bahawa menepati janji itu boleh dibahagikan kepada beberapa bahagian:


1-Menunaikan janji terhadap Allah


Ia lebih kepada janji seorang muslim itu untuk melaksanakan segala hukum Allah dalam al-Quran seperti hukum-hukum hudud, qisas, mendirikan solat, puasa, zakat, haji agar tidak dilabelkan Allah sebagai orang munafik.


2- Menunaikan janji terhadap Rasulullah


Iaitu berjanji untuk mengikut segala tunjuk ajar baginda, menghidupkan sunnah-sunnahnya bagi meraih tempat terbaik di sisi Nabi pada hari kiamat.


3- Menunaikan janji terhadap kedua ibu bapa


Untuk menjadi anak-anak yang solih semasa kehidupan keduanya ataupun selepas kematian mereka.


4- Menunaikan janji sesame manusia


Menepati waktu ketika berjanji dengan tidak melewatkan masa, kerana kelewatan masa akan menjejas kredibilitinya begitu juga dalam perkara berhutang, hendklah dia berniat untuk melunaskannya dan niatnya itu akan ditunaikan Allah.


5- Menunaikan janji pada diri sendiri


Berjanji untuk menjadi seorang hamba Allah yang baik, bukan sahaja sebagai seorang Islam, malah berusaha untuk meningkatkan diri untuk menjadi insan yang beriman dan seterusnya bertakwa kepada Allah dalam tingkah lakunya, ibadatnya, seluruh hidupnya, matinya adalah hanya untuk Allah SWT sahaja.


Apapun bila setiap tindakan yang kita buat disandarkan kepada agama, pasti ia akan dipancari dengan roh Islam termasuklah dalam isu menepati janji sesama manusia.

Rainbow Butter Cake

Hyeeee!!!!!!!

Dengan ke"busy"an melanda, hajar tak sempat nak update blog... haiisshh.. ok... hari ni hajar nak share dengan korang buat Rainbow Butter Cake.. tetapi ada kesilapan pada cake hajar.. 1st trial kot.... practice make perfect duk kata orang putih....tapi serius bebeh.. mengikut hukum alam dah lulus dah kek ni... tetapi kesilapan menggunakan loyang, so, setiap layer jadi nipis... tak pe tak pe... hajar akan explain lebih detail lepas ni... btw, ada orang tanya, "hajar, loyang tu apa??" ohh man!! dimaafkan sebab dia lelaki... loyang tu bekas yang digunakan untuk membakar kek.. ehh.. jap.. loyang tu bahasa melayu ke jawa??? ok.. confuse!!

ok... kite mulakan dengan bahan-bahan yang digunakan.. sediakan pen dan kertas... (ceh! macam la kat tv... boleh copy paste je la Hajar!!!)

Bahan-bahan:

250 g buttercup
220 g tepung kek 
1 sudu teh baking powder
200 g gula kastor
4 biji telur gred A
5 sudu makan air susu
1 sudu teh esen vanilla
6 botol pewarna (berlainan warna.. purple, biru, hijau, kuning, oren, merah.. kalau nak 10 warna pun boleh.. suka hati korang la..)


Cara-cara nya:


1. Panaskan ketuhar pada suhu 170"C
2.Pukul buttercup + gula kastor sehingga kembang
3. Masuk kan telur sebiji demi sebiji
4. Masukkan tepung kek + vanilla + baking powder + susu 
5. Bahagikan kepada 6 bahagian. Tuangkan pewarna pada setiap bahagian.
6. Bakar adunana selapis demi selapis selama 10-15 minit.. (tengok pada ketebalan kek.. kang bakar lama sangat rentung plak kek nya... )
7. Setelah kek masak, biarkan sejuk, baru hias dengan krim mentega yang akan diajar sebentar lagi....




Krim Mentega

Bahan-bahan:

150 g buttercup
350 g creamwell
180 g golden syrup
3 sudu makan gula aising (blend je gula pasir tuh... jadi ler gula ising)
2-3 sudu perahan lemon (optional.. nak letak boleh, x nak letak pun boleh)

Cara-caranya:

1. Pukul mentega dan creamwell sehingga kembang dan gebu.
2. Masuk kan golden syrup
3. Pukul hingga sebati dan siap digunakan

Setelah semua siap, mula kan untuk decoration... macam Hajar buat, Hajar selangkan dengan blueberry jem... (bukan yang guna untuk makan dengan roti ya...) ambik layer warna purple, sapukan blueberry jem, n then selangkan dengan warna biru, sapukan krim mentega, dan seterusnya.....

Setelah selesai semua nya, gunakan krim mentega untuk dijadikan topping... Siap untuk dihidang!!!! 

Kenapa kek saya menjadi keras???

Ok... let me explain.. Apabila kek terlalu nipis, kek akan mudah menjadi keras apabila terlebih bakar.. so berhati-hati ya.. saya cadangkan kepada anda, kalau buat 2 adunan pakai loyang kecik.. kek akan nampak tinggi tetapi lembut.. jangan buat macam saya... kek terlalu nipis, dan ada beberapa layer menjadi keras.... saya pakai loyang yang besar... itu sahaja kesilapan saya.. tetapi mengikut pengkritik tetap saya, kek dah rasa sangat ok, kesilapan hanya terlalu nipis hingga menjadi crunchy... hehehe... sorry bebeh! will do for 2nd trial next time....

ok.. chow! selamat membakar!!